Sembunyi



     Sudah dua puluh tahun hidupmu berlangsung. Kini kau punya cara baru untuk menyembunyikan diri. Selama ini kau bersembunyi di balik kehendak teman-temanmu, atau sembunyi di balik ketiak ibumu, atau sembunyi di balik keluguan ayahmu. Tapi, kini kau telah menemukan cara baru untuk bersembunyi; sembunyi di balik kepercayaan diri semu.
     Kau pernah mendengar kata orang yang pernah membaca buku tentang “berpikir positif”. Katanya pikiran manusia memiliki kekuatan yang tak terkira. Bahkan hanya untuk menghilangkan rasa takut atau membangun kepercayaan diri bukanlah hal sulit. Dengan memikirkan hal-hal positif, manusia dapat melenyapkan semua keraguan dan kesedihan dalam hidupnya.
     Meski tak sepenuhnya setuju pada kata orang itu-karena menurutmu perasaan juga punya peran dalam hidup manusia, bahkan lebih besar dari yang dikira-kau tetap berusaha mengamininya untuk keperluanmu. Lagipula saat kau berpikir lebih jauh, perasaan pun terbit dari pikiran; pikiran membangkitkan persepsi dan persepsi membangkitkan perasaan.
     Setelah semua pilihan yang terasa kosong-semua itu berarti dua-kau akhirnya memutuskan pulang ke rahim biara. Kau ingin menepis segala perasaan dengan semangat palsunya. Jatuh cinta, hidup puitis dan cita-cita menjadi penulis adalah pelarian yang mengosongkan hatimu. Setelah kau puaskan keinginanmu untuk semua omong kosong itu, kau berkehendak untuk meninggalkan segalanya demi Tuhan; kebahagiaan tertinggi.
     Kau merasa segala sesuatu yang kauinginkan selama ini hanyalah berdoa. Yang lain-lain tidak perlu karena semua itu bersifat sementara dan tidak perlu dipertahankan. Semuanya harus dibagi.
     Tapi, bagaimana dengan  apa yang bergulat di hatimu? Tentang cinta yang semakin sulit kau temukan maknanya, bila tertuju hanya pada satu orang. Lain halnya dengan Tuhan. Tentang teman-temanmu yang akan menertawai kebodohanmu. Menganggap dirimu lemah karena tidak kuat menghadapi dunia. Meski itu benar adanya, tapi kata tidak kuat lebih pantas diganti dengan kata tidak cocok. Atau tentang keluargamu yang akan membicarakanmu di belakangmu. Mengataimu seorang anak yang tidak punya masa depan. Hanya bisa lari dari kenyataan. Dan niatmu untuk kembali hanya terkesan main-main.
     Meski begitu, itu hanyalah kecemasan yang timbul dari pikiranmu yang negatif. Tapi seandainya benar begitu, maka kau sudah membangun kepercayaan diri semu dengan berpikir positif. Suatu saat kepercayaan diri itu akan menjadi kepercayaan diri yang sejati setelah bukan hanya pikiran yang memainkan peran, tapi juga disertai perasaan yang berlandaskan iman. Saat ini kau sedang menjadi orang bodoh. Seorang pengangguran yang masih menantikan iman dari turunnya Roh Kudus seperti dalam kisah para rasul.
     Sementara ini, tameng lamamu-ketiak ibu-masih kaugunakan. Namun apabila harus menghadapi sendiri tiap pertanyaan yang kau pikir kau tahu tanggapan orang selanjutnya apabila kau menjawabnya, maka dengan segala kepercayaan diri kau akan menjawabnya. Meski setelah itu, kau merasa galau dan bertanya pada Tuhan apakah kau salah memilih jalan.
     Masih kurang lebih tiga bulan untuk masuk biara. Lagipula sebenarnya, belum ada jawaban atas lamaranmu itu, sehingga yang dapat kau lakukan adalah seperti apa yang dikatakan Padre Pio,”Berdoa, berharap, dan jangan takut.” Dan untuk sekarang ini, kau masih berusaha bersembunyi.

Sangatta, 17/03/2017

Komentar