Misa



Misa

      Hari Minggu. Hari dimana kau siap meninggalkanku lagi. Membiarkan aku pergi ke Gereja seorang diri, duduk dalam misa seorang diri, dan pulang ke rumah membawa damai Tuhan sendiri.
      Sudah setahun ini kita jarang ke Gereja bersama. Semenjak kau diangkat menjadi Prodiakon di paroki kita, setiap minggu kau selalu saja harus pergi ke stasi-stasi untuk melayani umat dalam ibadat. Aku memang bersyukur karena kau bisa membantu Pastor Paroki kita melayani umat yang sering merindukan kehadiran seorang Imam. Ya, cukup seorang.
      Tapi, aku sudah agak tak tahan bila seringkali kautinggalkan, meski itu hanya hari Minggu. Aku selalu iri melihat pasangan suami istri yang selalu datang ke gereja bersama. Mereka duduk berdampingan seolah menunjukkan rasa syukur atas rahmat persatuan yang diberikan Tuhan. Bahkan mereka-mereka yang adalah Prodiakon sama sepertimu, sering punya waktu untuk mengikuti Misa bersama istri mereka.
      Aku bertanya-tanya, mengapa setiap hari Minggu kau harus bertugas di stasi? Sejak kau dilantik menjadi Prodiakon, hanya sekali kau bertugas di gereja paroki pusat, tempat kita pernah bersama mengikuti misa, tempat aku sekarang harus mengeluh karena kesendirian di hari Minggu. Setelah itu kau selalu pergi ke stasi dan aku kau tinggalkan, merindu kenangan masa lalu.
      “Apakah tidak bisa untuk meminta tugas di sini? Setiap hari Minggu aku merindumu duduk bersamaku di gereja,” tanyaku sebelum ia pergi.
      “Bisa saja. Tetapi aku lebih ingin bertugas di stasi. Di tempat dimana ada kerinduan akan Tuhan. Tempat dimana aku benar-benar melihat siapa itu umat Tuhan. Tempat dimana orang-orang benar-benar besyukur dan memohon dengan rendah hati pada Tuhan. Tempat dimana umat Tuhan datang ke gereja dengan segala kesederhanaan dan apa adanya. Tempat dimana aku benar-benar merasakan kehadiran Tuhan meski  itu hanya ibadat biasa, bukan misa. Malah aku merasa ibadat di stasi lebih sakral daripada misa di pusat paroki ini,” katamu panjang lebar.
      “Memangnya apa bedanya dengan misa di sini?” tanyaku tidak mengerti.
      “Tentu ada perbedaan besar dengan apa yang terjadi di sini. Di sini, kita yang katanya umat Tuhan datang ke gereja hanya karena kewajiban, bukan kerinduan pada Tuhan. Buktinya banyak dari kita yang datang lima menit sebelum misa atau bahkan saat misa sudah dimulai. Kita hanya datang untuk menjalankan kewajiban kita sebagai seorang Katolik, tanpa ada kerinduan besar kepada Tuhan. Padahal, jika kita benar-benar sadar bahwa misa adalah sarana bagi kita untuk masuk dalam karya keselamatan Allah, tentu kita akan datang paling kurang setengah jam untuk mempersiapkan batin kita sebelum menghadap Tuhan.  Di sini, kita menjadikan gereja sebagai ajang fashion. Kita datang dengan pakaian kita yang bagus dan malah akhirnya sibuk dengan pakaian kita sendiri. Memikirkan apa tanggapan orang terhadap apa yang kita pakai.  Hati kita menuntut hormat dan puji dari orang yang melihat kita, tanpa sadar Tuhan sedang menanti kita untuk menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Dia. Di sini kita menganggap hanya bagian-bagian tertentu dalam misa yang sakral seperti Liturgi Sabda dan Konsekrasi, selain itu kita mulai sibuk mengobrol, bermain HP atau melamunkan sesuatu. Sejujurnya aku benar-benar terganggu dengan itu semua.”
      Aku mengerti. Jadi selama ini kau tidak selalu bertugas di stasi, tetapi kau selalu ingin tetap pergi ke sana karena merasa terganggu dengan umat yang ada di sini.
      “Jadi selama ini kau selalu menghakimi umat yang ada di sini setiap kali kau mengikuti misa?” tanyaku.
      “Ya. Untuk itulah aku pergi ke stasi, agar aku berhenti menghakimi sesamaku.”
      “Kalau begitu aku juga mau ikut bersamamu,” pintaku.
      “Tidak. Nanti kau akan sibuk dengan pakaianmu dan akan menggangguku,” tolakmu.
      “Kini kau kau juga menghakimiku.”
      “Maafkan aku istriku.”
      “Kalau begitu kau harus misa di sini.”
      Kau melihat jam tanganmu. Sudah terlambat untuk pergi ke stasi, karena jarak stasi cukup jauh. Kau menatapku dan tersenyum.
      “Kau berusaha menahanku dengan semua percakapan tadi?” Kau seolah menyalahkanku, tapi aku tak keberatan.
      ”Ya. Tapi terima kasih atas pelajaran hari ini. Ternyata kau adalah suami yang paham tentang misa,” kataku sedikit memuji.
      Akhirnya hari Minggu ini kau memutuskan untuk pergi ke gereja bersamaku. Aku sangat senang. Di dalam mobil aku mengingatkanmu,”Kau memahami apa yang baik. Tapi tak baik jika kau terus menghindar dari kenyataan. Ketimbang menghindar seperti itu, jadilah teladan bagi umat yang ada di sini. Tidak perlu banyak kata-kata, cukup dengan tindakan penuh iman. Hari ini kau sudah menjadi teladan bagiku dengan kata-katamu, mungkin besok kau akan menjadi teladan bagi orang lain dengan tindakanmu. Tindakan tanpa menghakimi.”
      Kau menganggukkan kepala dan tersenyum, seolah mengamini perkataanku. Sementara itu mobil kita terus melaju menuju ke gereja. Misa masih dua puluh lima menit lagi dimulai.

Komentar