Aku Tidak Tahu Siapa Aku



Aku Tidak Tahu Siapa Aku

Kebodohanku adalah lagu lama
Tentu itu bukanlah yang asing bagiku
Tapi bagi mereka sungguh menimbulkan tanda tanya
Aku telah mencoba terbang lagi
Berusaha bersahabat dengan segala angin,
Sebab mataku punya sesuatu yang dituju
Seperti hari kemarin, langit kembali kelabu
Merusak iman yang dibangun secara pelan
Siapa aku ini?
Mau apa aku ini?
Ingin segera saja aku kembali menjadi debu
Tapi, sanggupkah aku menanggung malu?
Lagipula segala akibat bermuara pada sendu
Aku tidak tahu siapa aku
Aku tidak tahu siapa aku
Lagi-lagi aku tidak tahu siapa aku?

Sangatta, 26/01/2017





Mengabdi

“Aku adalah hamba tak berguna yang
hanya melakukan apa yang patut kulakukan”

Bunyi dengkurmu memasrahkan semua doa kepada Pencipta
Ada raut kegelisahan tergambar mesra dan lazim di rautmu
Kau hanya ingin menjadi layaknya abu
Bila tak digunakan selayaknya dibuang jauh
Meski kau pasti sadar
Tidak ada yang dibuang, jika kita dengan penuh
datang mengabdi

Apa ini perihal putus asa dan tanda menyerah?
Semenjak janin kau diberkati
Dan terus begitu sejak bayi hingga kau mati
Dalam itu semua, lagu tiada berakhir
Jika tak pernah dimulai
Dan sebagai hamba kau layak dipakai
Untuk mengabdi

Sangatta, 27/01/2017






Kala Aku Masih Malu-Malu Mencintai-Mu

Aku siap kembali
Setelah niat itu hampir usang di makan waktu
Aku adalah aku
Berdiri menyanjung keegoisanku
Hingga darahku kembali ke masa lalu
Kala aku masih malu-malu mencintai-Mu

Sangatta, 02/02/2017



 

Mengagumi-Mu

Aku berdiri mengagumi-Mu secara malu
Diam-diam aku jatuh cinta namun masih
sedikit ragu
Izinkan aku, si debu-Mu pulang
Memetik rahim-rahim doa
dari heningnya jiwa
Memetik kuntum-kuntum mekar
dari hati yang lepas dari kekosongannya
Dan bila kembali lagi kumembangkang
Rengkuh aku di bawah ketiak-Mu
Sampai aku menangis pilu
Dan minta diampuni oleh-Mu
Jangan lagi aku aneh sepeti yang waktu itu,
saat ini dan nanti

Sangatta, 06/02/2016





Kepada Kawan

Aku tidak tahu harus bagaimana, kawan?
Dunia ini telah benar-benar mencantumkan kita
pada nama yang tak perlu lagi disebut
Kau tak menyebut namaku
Dan aku tak juga menyebut namamu

Aku pulang, kawan
Bukan untuk meniadakan harapan
Tapi berjalan ke arahnya
Memikul beban yang seharusnya
kutanggung waktu itu
Oh, andai saja aku tidak melepaskannya
kala itu

Aku menyesal, kawan
Perihal kata yang terpaksa keluar
Untuk menuding kehidupan yang
serba tak adil

Tapi ketahuilah, kawan
Aku tidak bisa hidup searah denganmu
Memuji apa yang tak pernah kuyakini
Sebenarnya kau sudah cukup memaksaku
selama ini
untuk menjadi dirimu, bukan diriku lagi

Sangatta, 07/02/2016





Galau Aku Merindu-Mu, Tuhan

Galau aku merindu-Mu, Tuhan
Langit gelap waktu itu
Seuntai doa terajut dalam pilu
Jiwaku bersimbah kaku

Aku meminta-Mu datang menengok
Mengangkat daguku dan mengatakan,
“Aku cinta padamu, nak.”

Sebagai Bapa yang baik
Peluklah aku dalam igau tak menentu
Sebab sempat aku mengeluh
Berpikir Kau tak mau tahu

Galau aku merindu-Mu, Tuhan
Pincang imanku melekat pada batu
Dan aku jadi ingin segera menjadi abu
Kembali seperti awalku

Sangatta, 08/02/2016





Komentar