Pada Akhirnya Semua 'Kan Lalu



Pada Akhirnya Semua ‘Kan Lalu

Pada akhirnya semua ‘kan lalu
Perihal takutmu yang menjadi-jadi
Seolah sudah saatnya
Kau dihempas ke dalam neraka

Pada akhirnya semua ‘kan lalu
Perihal asmara yang kaupaksa
Untuk melarikan diri
Dari sepoi panggilan nurani

Pada akhirnya semua ‘kan lalu
Perihal orang-orang yang memakimu
Atau sempat membencimu
Secara aneh

Pada akhirnya semua ‘kan lalu
Perihal hidupmu yang selalu takut
Mengedepankan kebenaran
Daripada ketidakadilan

Pada akhirnya semua ‘kan lalu
Pada akhirnya
Ya, pada akhirnya
Perihal puisi bisumu
Yang menggumam tak menentu

Sangatta, 14/02/2017





Jangan Membicarakanku

Jangan membicarakanku
Bisik-bisik kalian sungguh berbisa
Menusuk jantung
Hingga darah mendidih dipompanya

Aku ini bukan hamba kalian
Sehingga dengan wajar seolah-olah
Kalian pantas menghakimiku
Dengan opini murahan

Oh, andai kasih itu terlaksana segera
Perihal akhir kehidupan yang penuh damai
Sehingga tidak ada lagi mulut nyinyir
Mendulang gosip dari hati
Yang entah iri atau dengki

Setiap kita bukankah punya takaran?
Tuhan sudah menyediakan rangkaian kehidupan
Tak perlulah kalian bersusah membicarakanku,
Aku harus jadi apa
Toh, aku pun tak pernah
membicarkan kalian, wahai para hati macan
yang selalu siap menerkam aku
jika aku lengah

Sangatta, 15/02/2017





Tidur

Mungkin tidur jalan yang benar-benar aman
Untuk melepaskan diri dari kicauan kepala yang menghimpitku

Dengan tidur kepulan nafas di cermin
Bisa menjelma bidadari yang haus pulang ke ayahnya

Dengan tidur dentang-dentang waktu
Bisa mewarnai semburat pelangi yang terbit di matamu

Dengan tidur deru mobil saja
Bisa menjadi hujan yang membasahi kalbuku

Tapi dengan tidur pula
Aku bisa melihat mereka menjilat habis darahku

Sangatta, 29/10/2015




Hujan dan Pulang

(i)
Semoga yang mati bangkit kembali. Semoga hujan yang dimakamkan pada hutan yang terbakar menabur dingin kembali. Dan itu doa di jalan pulang. Doa di daun yang telah gersang.

(ii)
Dan doa pun terkabul. Puisi-puisi menyembul. Langit terang menjelma mendung. Semesta tumpah ruah menabur. Rerumputan di bibirmu menuai hujan yang makmur.

(iii)
Hujan telah lapang  bertamu. Matamu berkaca-kaca menjamu. Gelisah dan gerah hanyut di derai air matamu. Kabut di alismu tiba-tiba sayu. Ketika pulang Tuhan memanggilmu.

Sangatta, 4/11/2015




Komentar