Kontrol Sosial bukan Jalan untuk menjadi Dewa ataupun Hakim

Kadang saya berpikir, mengapa ada orang yang suka ikut campur masalah orang lain? Jika itu menunjukkan keprihatinan mungkin baik, namun jika itu bentuk pengejekan maka sungguh tidak dianjurkan. 

Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi 'sesuatu' ada orang yang berusaha mencegahnya. Memang sebagai manusia, hidup sosial adalah penting. Homo Socius. Namun, hal ini tidak berarti seseorang berhak melulu ikut mencampuri urusan orang lain. Setiap manusia memiliki akal budi, sehingga manusia sanggup berkehendak secara bebas. Jadi, tidak ada satu orang pun manusia yang berhak menentukan hidup seseorang. Tidak keluarganya, tidak juga teman-temannya.

Kita hanya punya batas untuk memberi saran terhadap hidup seseorang. Melewati batas tersebut, berarti kita sudah memaksa. Kita jadi diktator bagi kehidupan seseorang. Kita punya kehidupan masing-masing, maka uruslah kehidupan kita sendiri. Mungkin sesekali perlu bagi kita untuk melakukan kontrol sosial. Namun, jangan sampai 'pengawasan' terhadap hidup orang lain menjadikan orang tersebut lari ke 'dunia gelap,' bersikap apatis dan berbuah pada tindak kejahatan.

Jangan sampai kontrol sosial yang kita lakukan menimbulkan kejatuhan bagi orang lain. Prihatin terhadap hidup seseorang tidak menuntut kita untuk mengambil penuh kehidupan seseorang dan mengganti kehidupannya dengan kehidupan kita. Ini berarti kita telah mematikan jiwa orang lain dan membuat dia tidak menjadi dirinya lagi. 

Saya pikir kontrol sosial tidak akan berkonotasi negatif menjadi 'mencampuri urusan orang' bila kita melakukannya dengan bijak dan sungguh dari hati, tanpa embel-embel mencari pujian dan kehormatan karena dianggap dapat merubah hidup orang. Kontrol sosial dilakukan demi kebaikan bersama, bukan jalan untuk menjadi dewa dan hakim bagi hidup seseorang.

Komentar