Tuhan, Aku Haus



Tuhan, Aku Haus

Tumpahkanlah darah-Mu di atas kepala yang lagi pening
Sebab kucoba hening sedari tadi
Memaku diri pada salib kehampaan
Sepi terperanjat pada sedihku
Dan puisiku kembali menderita di hadapan mata-Mu, Tuhan

Apakah bumi sedang tergopoh- gopoh
Menjunjungku yang terbebani pada lalunya hari-hari?
Meski barang sejenak kuberhenti memaki
Namun sesak menusuk dada
Sakit, perih seperti kulit yang melepuh karena api

Mungkin tubuh ini sedang merasa praneraka
Tapi janji-Mu sedari dulu adalah surga
Jadi aku tak mau percaya kalau anak dilepas Bapa
Hanya untuk menderita selama-lamanya

Maka Dikau Tuhan dan Bapa yang kekal sempurna
Mari kita bertemu dalam doa sebelum senja
Sebab sembari lelah aku ingin buta
Dan ingin melihat dunia dengan hati, bukan sekedar mata

Tuhan...
Sama seperti-Mu yang berseru pada dunia dan surga
“Aku haus!”



Yogya, 15/08/2016





Petikan Gitar
:kepada tiga saudara

Malam telah tiba saudara-saudara
Sedang gemuruh pesawat lalu di atas kepala kita
Dan kalian begitu asyik memetik gitar; memetik harap, memetik doa
Di sini sunyi tak ada lagi arti
Dan kita sama-sama menanti

Mungkin mentari esok hari melapangkan berkat yang benar-benar diharapkan
Dalam gelimang doa
Doa yang selalu terselip dalam lantunan lagu di tengah petikan gitar
Dan Tuhan tahu-kita yakin akan hal itu-akan isi hati kita yang empunya meminta
...
Yang empunya meminta

Yogya, 03/08/2016




Bahagia

Terima kasih telah mengguruiku saudara
Perihal hari-hari yang ‘kan penat mendengar keluh
Ah, bahagia adalah setiap waktu kita,
Ternyata

Setelah hening, kening tak lagi sisakan kerutan
Menderita adalah untuk bahagia
Itu yang kupelajari saudara
Bahagia itu sederhana

Kita tertawa mendengar celoteh yang menghibur dunia
Lalu termenung untuk sekedar mengingat surga
Dan kembali tertawa untuk bahagia,
Bukan untuk selubungi derita

Bila kita mati secepat kereta api yang tiba di stasiun sana
Kita sudah punya harta untuk bahagia;
Tawa dan syukur untuk Pencipta,
Keabadian sejati untuk kita

Yogya, 18/08/2016

Komentar