Masih Dapat



Masih Dapat

Lonceng gereja sudah kudengar
Dan aku mengacuhkannya
Aku mengacuhkan-Mu Tuhan
Meski kau memanggil, aku mengacuhkan-Mu
Aku tak berpaling
Hatiku beku dan menahan-Mu masuk ke dalamnya
Namun, siapalah aku ini?
Hanya debu, yang jika kau tiup, akan hilang lenyap
Sekeras apapun, hatiku masih dapat kau masuki dengan lembut
Sekeras apapun....
Masih dapat....
Dengan lembut....

Yogya, 23/10/2016







Siang yang Membunuhku

Siang itu benar-benar membunuhku
Aku nyaris mati di tempat orang-orang lalu,
Menggerutu seraya mencari buku
Namun, seperti tak tahu tempat
Mereka berceloteh dan tertawa terkekeh-kekeh
Mereka pikir bisa memasukkan isi buku
Ke dalam otak mereka dengan tertawa

Tapi, aku di sini yang bingung sendiri
Aku mencoba absen sekali
Kesengajaan yang sudah kumulai
Aku takut
Jika siang membunuhku
Di garis depan yang penuh benalu

Entah,
Namun egoku berkata begitu

Yogya, 26/10/2016





Di Depan Altar-Mu

Hari ini di hadapan altar-Mu
Aku sesungguhnya menyimpang ke lorong-lorong buram
Kusebut itu sebagai mimpi
Di sela sadar dan tidak sadar
Aku percaya mimpi itu awal kesuksesan
Dan doa mengubah segala sesuatu
Aku terkejut dan bingung
Bagaimana aku dapat mengembara ke jalur yang baru?
Seketika jika Kau mau, kupastikan aku mampu
Namun, aku takut
Duniaku jungkir balik dan aku lupa
Yang mana harus di bawah
Yang mana harus di atas
Aku di sini, di depan altar-Mu
Sedang merasa resah, tapi diam-diam berharap
Engkau bertindak, segera!

Yogya, 06/11/2016





Hujan dan Hati

Hujan menghanyutkan kita ke dalam pembicaraan ini
Hati terketuk untuk mengenang cinta yang menghilang,
Entah sekian waktu yang memuai
Hati kembali dingin dalam pelukan hujan

Lihat!
Malam tersembul, keluar
Seolah tertarik mendengar kisah cinta manusia
Cinta yang sering membunuh hati
Dan menguburkannya dalam lubang kecewa

Luka tak pernah sesadis ini;
Ketika hujan datang mengguyur hati kita
Yang masih menyimpan keping cinta

Yogya, 08/11/2016




Selamat Tidur Perkara

Hei!
Selamat tidur perkara
Yang terbayang indah
Langkah kakiku tak sabar bergerak
Seolah narapidana yang ingin bebas dari penjara
Jerit tangis biarlah jadi biasa
Agar sesekali kutahu, bahwa hidup
Tak seenak masa bayi
Di mana ketika aku menangis, ada susu
Yang menyumpal mulutku
Dan aku tertidur bak raja yang otoriter

Selamat tidur perkara
Yang siap habis bersama waktu setahun
Biar genap suka dan duka berbagi setengah
Yang saling mengisi bahagia dan resah
Kita tertawa lalu berduka, itu biasa
Tapi darah kita jangan habis
Hanya karena terkuras air mata

Selamat tidur perkara
Aku tak bisa terus menerus mengejar harta
Dunia terlalu naif dalam mengumbar janji
Tuhan di sana sedang menungguku
Pulang bersama serumpun penyesalan
Yang pagi tadi baru saja kurenungkan

Aku akan selalu khilaf
Tapi Ia akan selalu memberi maaf
Pada akhirnya habis perkara

Selamat tidur perkara!!

Yogya, 16/11/2016






Komentar