Kembali Padamu


Kembali Padamu

I
Sesekali kujentikkan jemariku. Menghitung waktuku sampai matamu menimang tubuhku lagi. Ketika gonggongan anjing meggerus habis nyaliku, akhirnya aku tiba kembali di pangkuanmu. Kini aku lepas susahku dulu. Biar seperti kemarin aku masih bayi, menyusu dahulu agar tangisku reda. Akan kuhadapi gigitan nyamuk dan jatuh yang buatku luka. Tapi setidaknya aku kembali dulu padamu.

II
Bahkan jika aku tinggal tubuh saja, setidaknya aku kembali padamu. Jika aku harus terbit dalam gendonganmu, maka terbenam pun aku harap dalam pelukanmu. Tubuhku hanya tulang saja. Masih  ringan seperti bayi dulu.

III
Doamu untukku akan kembali padamu. Pada akhirnya aku juga akan kembali padamu. Sejauh apapun aku meninggalkanmu, karena kau rela melepaskanku bersama doa dan takutmu, aku pasti akan kembali padamu.

Yogya, 15/12/2016




Kepada Burung-Burung

Kepada burung-burung yang menuai cahaya matahari
Kuucapkan selamat pagi
Serasa kudilahirkan kembali
Dari rahim yang sejak awal tak abadi

Di fana ini, denyut jantung masih di sini
Di dalam dada yang berdetak
Menunggu sang kekasih
Kekasih yang bersolek cantik
Dan kepada semesta dia bernyanyi

Janjiku kepada burung-burung
Bila esok hari nasib memberiku untung
Dapatlah kuhadiahkan burung-burung
Makanan dari hatiku yang asyik jatuh cinta
Ya, ketika busurku kena tepat di hatinya

Kepada burung-burung
Aku ‘kan ikuti siulmu
Dari balik-balik pohon menembus cahaya
Aku ‘kan ikuti terbangmu
Dari sarangmu menembus angkasa

Kepada burung-buruung
Terima kasih telah mengajarkanku cinta
Yang selalu kalian petik setelah terbit pagi
Mengelana seolah mencari jati diri
Dan kembali ketika senja
Mengajakmu pulang menyucikan diri

Ada anak-anak kalian di sarang sana
Yang menanti cinta dengan cinta
Makan apa adanya seturut yang kalian bawa
Walau itu bukan makanan dari meja raja

Kepada burung-burung
Ajarkanku untuk tetap terbang
Meski segerombolan awan mendung
Menyergap aku
Karena di sini ada begitu banyak
Yang mengharapkanku,
Jika aku tak salah kira

Kepada burung-burung
Segenap kisah kularungkan di aliran hari
Yang siap menjadikanku mati
Dan setiap nafas kuhembuskan
Untuk kalian yang selalu menemukan Tuhan
Memberi kalian makan
Sampai jasadku tak bernyawa,
Menjadi jenazah yang pasti punya kesudahan
Yogya, 12/12/2016





Aku Tak Peduli

Aku tak peduli untuk saat ini
Bagiku kepulangan adalah satu-satunya pandangan mata
Tiada kamu
Atau pesona lain
Aku palingkan dulu, sebab hatiku juga harus utuh untuk pulang
Kamu jelas saja tak pernah mengingatku
Untuk barang sejenak mengkhayalkanku
Aku sekarang tak mau peduli
Tapi masih mencintaimu dalam puisi

Yogya, 16/12/2016



Kisah Seorang Pemuda Penyair

Seorang pemuda menggarap habis malamnya dengan igauan tak berupa. Tak terdengar seperti kata-kata, hanya suara yang meracau, namun membabibuta. Ia adalah penyair yang baru lahir dari senja yang barusan ada sebelum malam ini tiba. Penyair yang kelak berdiri di podium senja, tempat di mana ia lahir. Di sana ia ‘kan berbuah. Lalu semerbak keharuman puisi yang dibacakannya menggugah nalar dan emosi, hingga semuanya sedemikian menakjubkan. Setelah semuanya itu, penyair akan layu diterpa rindu. Dia akan renta di bawah kertas usang yang dia pakai untuk mendaraskan cintanya; cinta yang tak pernah sampai.
 
Yogya, 16/12/2016






 

Komentar