Terserah Malam



Terserah Malam

Biar kulapangkan pikiranku ke dalam buai malam
Langit yang semenjak kelam ketika mereka memuntahkan persepsi yang salah,
Itu menjengkelkan
Tapi waktu benar-benar larut
Kesadaranku dan juga mereka pun larut
Itu sebab aku menggelisahkan tangisku
Tangis yang teredam dalam emosi yang membeludak
Aku takut mereka menjadi sepasang bola mata yang menikamku dengan hujatan remeh

Aku baru sadar, aku baru sadar
Aku kurang tenang
Malam makin larut
Hari telah pagi
Aku kurang tenang
Terserah malam mengutuki aku
Terserah malam

Yogya, 04/08/2016






Tanyamu

Kulihat kau begitu teliti mengukir tanya
Meski omelan dan rasa jengkel berusaha mengerus habis tanyamu
Tanyamu mungkinkah pelarian atas kecewa yang sarat kerinduan
Atau kau hanya mencoba menggariskan apa yang pantas kau lambungkan
Sebelum senja menjemput
Mungkin itulah caramu menikmati hidup

Yogya, 04/08/2016





Serupa Doa

Serupa doa, puisi mengajarkanku terbuka
Tentang apa yang tak kau ketahui tentang isi hatiku
Tentang pengungkapan jiwa yang kadang tertunda

Serupa doa, puisi ikut dalam pergumulanku
Hidupku tak semenarik film di televisi
Namun, maknanya mungkin lebih besar
Daripada sekedar membuat air matamu luruh

Serupa doa, puisi dapat menghentikan hujan seketika
Untuk kukenangkan apabila kemarau menghampiriku
Mengambil separuh kata yang mestinya terungkap
Dan laku yang sering menyiratkan kata yang diam-diam membingungkanmu

Serupa doa, puisi mengajarkan hidup yang kacau di mataku
Namun begitu rapi tertata di mata Tuhan
Percayakah kau akan hal itu?

Yogya, 20/10/2016







Gadis Berkacamata

Ah!
Sebenarnya aku bingung bagaimana mencintaimu
Pertemuan seringkali tak terduga
Begitupun dengan kita

Aku bingung; jatuh cinta katanya begitu
Dari balik kacamatamu, tatapanmu begitu mendukung senyummu
Meski kita selalu begitu; bertemu, tersenyum, dan berbicara singkat,
Namun hangat sapamu menerpa
Jenuh yang selama ini mendera

Hei, gadis berkacamata!
Boleh jadi Tuhan menjodohkan kita
Aku sedang mencoba berpaling dari
Cinta lama yang tak pernah pasti
Aku sedang menuju jalan pulang
Ke suatu arah yang kadang buatku gemetar

Bila sempat, singgahlah di sini
Di hati yang sepi dan sendiri
Jika nyaman tinggallah
Jika bosan pergilah

Namun sesekali biarlah kualami
Bagaimana mencintaimu
Sebab sebagaimana kacamatamu,
Aku bisa menduga
Sedemikian cinta yang kaupunya
Sekedar merasa, bolehkah aku, gadis berkacamata?

Yogya, 21/10/2016

Komentar