Teman Lama



Hujan (1)

Hujan di luar sana menari-nari
Sebab hari ini ada yang ‘kan pulang kembali
Apakah hujan berusaha menahan kami?
Ataukah hujan mengajak kami ke dalam doa menyatukan diri?

Yogya, 17/12/2016




Teman Lama

Sayangku...
Adalah ketidakmungkinan bila aku
Harus berhenti mengharapkanmu
Membiarkan cintaku tergantung begitu saja
Pada lalunya waktu

Mungkin, diam adalah rasa sakit yang paling dalam
Tapi ingatlah aku pernah mengungkapkannya padamu

Aku tahu kau belum siap
Aku lebih tahu kalau kau tak mau
Tapi tidak salah, bukan jika aku tetap mencintaimu?

Perihal menjadi kekasih atau tidak, bukan masalah
Aku yakin kau pasti mengenal perasaanmu sendiri

Bila tak mau jangan dipaksakan
Meski bertepuk sebelah tangan
Setidaknya aku tidak melihatmu dari kejauhan

Kemarilah sayangku
Aku ingat kita adalah teman
Meski aku tak pernah ingat kita kawan sepermainan
Setidaknya aku mengenalmu jauh lebih lama
Dan mungkin, lebih dalam
  
Marilah kita mengikatkan pertemanan kita kembali
Yang lahir jauh sebelum perasaan itu ada
Perasaan yang buatmu risih atas pengungkapanku
Yang semakin menjadi-jadi

Jangan menganggapku pernah memaksa
Aku hanya ingin bercanda
Aku ingat kita hanyalah teman
Yang saling kenal lama

Sangatta, 20/12/2016




Natal (Memuja Tuhan Kembali)

Bau pohon natal tercium
Semerbak keharuman meliputi ruangan
Ini rumahmu
Dengan kecil yang tetap
Dan kehidupan seadanya

Langit Kalimantan masih sama
Hanya awan-awan yang dinamis
Berlalu silih berganti

Tak perlu gusar seperti di sana
Di sini ada ayah, ibu, dan adik-adik yang terlambat tua
Mereka menantimu
Untuk berdecak kagum pada kerahiman Tuhan

Natal juga hari baik
Gurau dan manyun menjadi warna eksotis
Sadar Tuhan terlalu terampil meerajut hidup

Natal ini harapanmu apa?
Hujan tiada?
Rejeki berlimpah?

Setidaknya kau pulang menghapus rindu
Kau hidup sampai natal lagi
Kau masih ada untuk memuja Tuhan kembali

Sangatta, 22/12/2016




Bau Lumpur

Jejak kaki masih utuh
Pada bau lumpur di belakang rumah
Hiruk-pikuk burung bernyanyi
Mencari gigil pada musim
Yang seharusnya berlimpah hujan

Awan terlihat putih, bahkan hampir menguning
Di sengat matahari
Yang heran
Mengapa di tempat ini ia begitu teriknya

Pada akhir baris pujian natal
Matahari diperolok dengan keluh dan lenguh
Sementara bau lumpur makin anyir
Dengan jejak yang tak mau diampuni

Sangatta, 27/12/2016




Rupa Puisi

Berdentum lagu natal dari speaker tua
Memecah sunyi malam
Di mana pasukan jangkrik berbagi suara

Aku duduk di sini
Di kesenangan yang lagi tekunnya
Sebab sebuah kabar mengatakan
Serumpun puisi menyokong tengkukku lagi

Kini aku dapat menegakkan kepala
Untuk menatap ke depan
Melihat bulir-bulir puisi bertebaran
Merangkul sorot mataku
Mengekal di rerimbunan tawaku

Untuk ini, tak lagi ada mengasihani diri
Inilah rupa puisi
Penyembuh batin, penyuci diri
Nabi di tengah keributan ajaran dan aturan
Penenang di bawah payung naung Tuhan
Pelindung dari kata basi yang menusuk hati

Aku berdecak kagum
Mengingat seorang penyair yang berujar,
“Pada mulanya adalah kata”

Ya
Dan kata dalam puisi begitu asyik menggelisahkan
Tapi juga menggetarkan

Seperti jatuh cinta pertama kali
Jantungku berdebar
Jiwa bergejolak

Bukan apa-apa
Hanya aku tak menyangka
Sedemikian jadinya

Sangatta, 30/12/2016




Kembali Menulis

Awal tahun adalah penyakit
Bagiku itu keuntungan
Untuk merenungkan masa depan
Sebab jiwa penuh kemalasan

Angin liar sering membuat gigil
Dan itu menguntungkan
Untuk bersembunyi di bawah selimut
Dan mengobrak-abrik mimpi
Sampai kutemukan wajahmu

Setelah pening dan demam yang meresahkan
Dan ingus yang meler terus-terusan
Kini aku tertegun dan kagum
Lalu kembali menulis

Sangatta, 08/01/2017



Hujan (2)
Dalam rintik yang nyata
Ia menghalangimu pergi ke gereja
Namun masih tak mampu
Mencegahmu berdoa

Sangatta, 15/01/2016




Komentar