Doa Kelabu



Doa Kelabu

Hujan deras turun sedari tadi
“Ada yang sedang berjuang menanggung iman,” bisik sesuatu,
Entah apalah itu
Tapi, tahu sajalah
Yang benar-benar Benar
Selalu takluk oleh dunia
Dunia tak benar-benar menang
Ia hanya akan tertawa sesaat

Oh!
Darah bisa saja tercecer
Korban bagi dunia, kau tahu?
Di pelaminan dosa
Dunia terbahak-bahak tertawa
Perihal keadilan sekepal dilumat “doa yang kental”

Kita tak pernah tahu, jika “doa”
Itu benar-benar doa, kan?
Kita hanya tahu, doa itu jembatan
Menuju Tuhan
Kita tak pernah diberi tahu kalau
Mereka yang berdoa,
Sering mengikhtiarkan luka bagi sesama
Hanya karena cemburu, doa bisa saja
Menjadi kelabu, lalu membunuh

       Yogya, 22/11/2016





Birahi

Birahi menarikmu tuk dijadikan abu
Jika kau ikut ke lorongnya,
Nikmat semu melolong
Menertawakanmu yang ditelan dosa

Kau begitu asyik mengeluarkan nafsumu
Dan ketika lenyap, nafsu
Adalah puntung kosong bak abu

Dunia terlalu bahagia memilikimu
Kekeh tawamu akan mengalir
Menjadi tangis yang mengeroposkan hidupmu

Dan seraya kau mencurahkan
Tentang birahi yang tertahan
Ia datang menekan
Kau diberi sebuah wejangan
Tentang bayangan-bayangan yang menegangkan
Lalu tidur dengan kepuasan yang sia-sia

Yogya, 26/11/2016





Kesah yang Tersamar

Hujan berhenti
Malam semakin sunyi
Pagi diam-diam menghampiri
Kepalaku hiruk-pikuk bernyanyi,
Bahkan setan di ujung sana
Janganlah kemari
Aku sanggup berlama-lama merenungi
Rangkaian cerita yang ‘kan membawaku mati
Doa terhempas di sudut puisi
Untuk kuselami
Bila aku masih berlari
Tolonglah!
Di balik puisi yang runyam
Ada kesahku tersamar, untuk kesekian kali

Yogya, 28/11/2016





Makna Indah Cinta

Aku benar-benar tak tahu, perihal marah
Yang kaulemparkan sembunyi-sembunyi
Memang marah tak selalu berarti benci,
Tapi itu kesadaranku buatku
Begitu memaksakah aku?
Berarti jangan pernah menganggap itu cinta
Aku yang selalu mencoba mendefinisikan cinta,
Setidaknya telah mengaburkan makna indahnya

Perihal pulang, sungguh aku malu
Melihat wajahmu
Seberdosa itulah aku
Jangan sampai kita saling mencinta
Karena kita tak pernah menemukan makna indahnya
Bila bersama

Tetes hujan anggaplah tangisan
Perihal kau yang dinistakan
Atau aku yang ditinggalkan
Jangan lagi aku mencinta
Dan jangan sampai kau mencinta
Kita tak akan pernah menemukan makna indahnya

Yogya, 01/12/2016







Untukmu Puisi Senja dan Untuk-Nya

Aku kembali untukmu puisi
Setelah kutelan senja kemarin
Aku merasa terkutuk untuk tetap di sini
Tapi, hujan sekarang jarang menghampiri
Apa mungkin kemarin langit menangisi kelam hati?
Terbukalah mataku pada cericit burung pagi
Seberapa pekatnya malam, ternyata Tuhan selalu menerbitkan pagi
Hatiku luruh, tersentuh, namun masih sendu
Segala perkara dapatkah kutanggung tanpa Dia?
Jalan-jalan ternyata sebegini terjal
Dan nasib padahal sebegini mengejutkan
Kemarin kutanya pada doa
Bilakah kita akan berjumpa,
Oh, Yang Mengatasi Langit?
Tekut lutut nyatalah yang paling mutlak
Di bilik sempit kejenuhan
Teresapi cinta-Nya yang menawan
Darahku adalah darah-Nya
Keringatku adalah keringatmu, puisi senja

Yogya, 09/12/2016




Keringat dan Air Mata Ibu

Usiamu bertengger di pintu cahaya
Mengetuk pintu itu tapi juga pintu surga
Tuhan saksikan keringatmu
Terhempas dengan segala sakit dan tetes air mata
Tapi sejak lama ulahmu begitu saja
Memainkan sepi lalu menangis sendiri

Engkau di situ menyendiri, diam, dan mengasihani diri
Nuranimu mengataimu betina
Dan kau nyaman-nyaman saja dengan itu semua

Sejak kapan kau berhenti lelah
Sehingga segala caci maki menikammu begitu saja
Sesungguhnya yang pantas kau tahu
Kau telah mengotori rahim ibumu
Sementara di sana
Ibumu bersimbah debu
Mandi keringat dan air mata untuk hidupmu bahagia

Yogya, 05/12/2016







Komentar