Pos

Menampilkan pos dari 2017

Aku Minta Tambah

tubuh gempal bermandi keringat
kau datang dari rumah
mengadopsi waktu menjadi anak perumahan
dengan tawa imutmu

pembukaan dari setiap hari adalah makan
dan kau tak pernah mengenal apa itu sarapan
semuanya makan bagimu
tubuhmu sudah membuktikan

kali ini, siang hampir memuncak
dan kau menyampirkan makanan tadi
ke entah
"Aku minta tambah", ujarmu dengan
santainya

langit-langit rumah ikut tergoncang
ada yang tertawa tulus
dan ada yang tersenyum miris

mengingat hidup bukan dari roti saja
kami melihatmu berlebihan
namun, kau adalah kemurnian

kami tahu itu bukan pembuktian
itu sungguh kelaparan
hanya saja, kami tak pernah menyangka

Puteri Dibon dan Puteri Yerusalem

Puteri Dibon naik ke bukit-bukit
pengorbanan untuk menangis
dan puteri-puteri Yerusalem meratap
meminta anak-anak mereka dikembalikan
ke pelukan

Puteri Dibon dihukum Allah
dan puteri Yerusalem terhukum
akibat durhaka

kita adalah puteri Dibon yang
tak mengenal Allah
dan juga puteri Yerusalem yang
mengenal Allah, namun tetap berdosa
dan melawan-Nya

pada akhirnya Paskah sudah berangsur-angsur
mendekat
dan kejatuhan harus sampai pada penghabisan
karena bagaimanapun juga
kita harus ikut bangkit ketika sadar akan
keberdosaan kita

Semuanya Adalah Bagian Kehidupan

langit yang berbeda
tapi kelihatan tetap sama
begitu pun hari yang baru
namun sama seperti hari-hari sebelumnya

meski begitu
Tuhan tak pernah berdiam
rahmat selalu baru
dan cinta jadi menggebu-gebu

 aku pun meninggalkan masa lalu
yang selama ini berampas di kalbu
menahan semangat yang bertalu-talu
yang pernah mencegahku untuk maju

dan seperti itu
Roh Tuhan adalah pembaharu
sehingga tak ada yang perlu dicemaskan
tentang jurang terjal
yang terbentang di depan
dalam jalan kehidupan

semuanya adalah bagian
dari kehidupan itu sendiri
tak ada yang salah
kecuali cara kita yang menyikapinya

Jatuh

"apa yang telah kulakukan?"
tiap pertanyaan ketika sesal datang
dan kau mengutuk diri sendiri
atau mulai membenci para pencela

kau lupa untuk mencintai jatuh
karena jatuh adalah aliran hidup
yang membawamu sampai kepada muara
keluasan dunia

tapi sejak kecil kau diajari
jatuh patut dihakimi
barang haram yang harus dijauhi
tanpa menoleh untuk coba dinikmati

sedikit saja coba cicipi
jatuh seharusnya diresapi
karena kita pun bukan malaikat
yang bisa selalu menghindar darinya

barangkali ketika kau sudah cukup menangis
ingatlah akan yang satu ini
masa depan sungguh ada
dan harapan tak akan hilang
dalam Tuhan


Pada Yesusku

pada Yesusku luka menganga
diiris cambuk durhaka
dari anak-anak yang tak tahu apa-apa

pada Yesusku duka nestapa
tangis mereka yang dianiaya
padahal tidak berbuat dosa

pada Yesusku darah dan air
sembuhkan luka karena dosa
bilur karena gila kuasa

pada Yesusku paku dan mahkota duri
juga salib suci jadi saksi
tentang kebenaran dan cinta sejati

pada Yesusku aku melihat
aku bukan siapa-siapa
dan memang pantas dihina

pada Yesusku orang-orang papa
yang senantiasa menderita
akan mengalahkan dunia dan menikmati surga

Beginilah Hidup

kau mengataiku,"kehormatan dan pujian adalah kebutuhan"
dan aku tersenyum simpul, berharap kau tak berlebihan
"konsep dasar hidup manusia dipenuhi dengan pencarian
akan nama baik untuk memperoleh kehormatan dan pujian," kau menyambung lagi
dan sembilu menyakiti sukmamu
sebab setiap perkataan bijak, lahir dari hati yang pernah sakit
dan belum sembuh
aku tersenyum simpul dan kau makin mengerti
bahwa beginilah hidup

Sembunyi

Kepada Mendung yang Telah Pergi

kalau boleh kutanya
mengapa kau pergi sepagi ini?
ketika aku masih meminta kantukmu
dan peluk dinginmu
untuk tidurku

matahari menghapus jejakmu
dan memang inilah waktu kuasanya
masih ada gigil yang tersisa
dan semua hanya tentang rasa

kapan lagi kau kembali?
mengetuk bumi dengan rintik hujanmu
merapal mantra, menimbulkan semu
untuk para pemalu
yang hanya ingin hidup dalam
bayang-bayang

kau gelap dan membawa bayang-bayang
kau bayang-bayang dan menjadikan waktu
beralih semu
kau semu dan membiarkan semua orang
termakan kepasifan
kau kepasifan dan ingin semua orang hening
merenung

lalu setelah menjadi kausa
atas segala yang berubah
kau kembali meniadakan diri
dan menganggap dunia ini harus mati

Kepada Tetangga Berkerudung

hari ini adalah hari Kamis
kau tahu bahwa aku mengantuk
sebab lembur menekuni media sosial
dan menonton bola;
tim yang kudukung menang

lalu aku duduk diam di depan komputer
tanpa tahu harus berbuat apa
dan ketika melihat ke luar jendela
kau lewat

dengan kerudung panjang
kau susuri pagi dengan doa
melirik barangkali ada objek
yang dapat kaudoakan

kau adalah orang yang tak mengerti
namun berusaha memahami
meski itu sulit
dan membuatmu harus menghakimi

tapi tak ada yang mustahil di dunia ini
bila bergejolak hatimu
seumpama orang yang haus birahi
kau cepat-cepat menengadah
melantunkan doa yang hanya kau
dan Tuhan yang tahu

lalu di sini
malah aku yang mulai menghakimi
karena aku selalu membayangkan
bagaimana penilaianmu terhadap
aku yang munafik ini

pelan-pelan, dengan senyum yang pantas
gantian, darahku yang berdesir
dan aku ingin masuk ke dalam matamu
mengikuti arus doamu
yang benar sampai ke Tuhanmu

Adalah Hujan

adalah hujan yang mengisyaratkan kerinduan
gigil pagi memang memberi damai bagi hati
lagu Gregorian menjadi syarat penghiburan
kekelaman adalah cerita basi yang patut ditinggalkan
dan mengasihani diri adalah cerita lama yang harus segera mati
kita memang bukan siapa-siapa

adalah hujan yang mengulang
bahwa kita bukan siapa-siapa
kita tak pernah menduga
bila panas yang terpikirkan
menjadi hujan oleh Tuhan

adalah hujan yang mengungkit masa lalu kita
untuk kita syukuri
karena kita bisa hidup sejauh ini,
melangkah sejauh ini

adalah hujan yang adalah ilusi
bagi dunia fana
bukan untuk meniadakan yang nyata
tapi untuk membawa kita beristirahat
dan melihat kehidupan yang sebenarnya

adalah hujan yang membiarkan ibu
tidur pagi-pagi
dan biarlah
barangkali ia bermimpi
dan menemukan kebijaksanaan
dari alam bawah sadar
yang menyimpan beribu misteri
yang tak selalu dapat dijelaskan

Jantungku

: kepada maut

jantungku adalah makananmu
bila ia berhenti berdetak
kau sigap mengambil tempat

mungkin dalam doamu yang kelam
engkau berharap
aku diterpa kejutan yang luar biasa
lalu aku tersentak dan mati di trotoar
ketika aku berdiri
menantang matahari
menunggu angkot kuning
yang belum lenyap
ditelan arus zaman ini

atau kau ingin menenggelamkanku
dalam genangan cemas yang tak berawal
dan juga tak berujung
genangan cemas yang hanya melayang
tanpa tahu arti keberadaannya

dan mungkin engkau ingin mencuriku
dengan menusukkan sebilah pedang duka
yang juga pernah menghujam jantung Maria
oh, seandainya aku dapat mati seperti Puteranya

Ampas Kopi

jika ada yang memaklumatkan makian kepadamu
anggap saja itu ampas kopi yang harus dibuang
kau sudah begitu rela menenggak pahitnya kopi
jadi ampasnya tak perlu lagi kausantap

anjing menggonggong seiring dengan dentum lonceng
dan ampas kopimu mengendap di sukma
pekat dan pahit yang kaurasa
bisa kaualirkan untuk menenangkan anjing
atau menjawab panggilan lonceng

dalam jawabmu pada dentum lonceng
ada doa yang terselip
menyusup dari bilik sempit dosa
tempat tobatmu dapat mendaras

ampas kopi membuyarkan halusinasi
ketika kau benar-benar sadar dan malu

dan ketika kau kembali membuka mata
setelah doa yang telah melampaui angkasa
kau melihat ampas kopi
sudah menyatu bersama tanah
dan menggemburkannya

Angin di Sini

angin di sini dingin. sejak malam ia bertandang,
memungut sepi dan sendiri untuk menimang doa
angin di sini bergerak dalam diam
hembusannya terdengar
namun, ia mengikuti alur keberadaannya
tanpa mengeluh tanpa menghakimi
angin di sini pelan-pelan mati
lalu hidup lagi
menyatakan mukjizat Tuhan
berlangsung sampai saat ini
angin di sini datang dan tak mau pergi
entah ia ingin menggoda kita untuk tidur kembali
ataukah mengemas rasa syukur kita atas pagi
angin di sini mengintip di celah bibir
barangkali lidah kita sudah membunuh sepagi ini
angin di sini samar-samar bermeditasi
berharap kita yang dihembusinya
juga larut dalam kontemplasi
angin di sini nan sejuk memanjakan hati
pelan-pelan kita sadar bahwa kita
sudah tua untuk mati


Misa

Kau Tahu?

Kau tahu? Ada kucing merenung tentang rintik hujan yang menyisakan dinginnya. Cuaca serba tak menentu. Setelah panas menggigit, lalu hujan datang menenggelamkan segala kegerahan. Kau seharusnya ada di sini. Melihat bagaimana aku memandang kehidupan. Sehingga kau yakin, bahwa kau tak benar-benar pantas untuk mengutuk jalan hidupku, apalagi mengeluhkannya pada hujan. Hidup yang kujalani adalah punyaku sendiri dan nyawaku bukan juga di tanganmu. Nyawaku ada di tangan Tuhan.
Kau tahu?  Tak seharusnya kita begini. Saling membenci karena perbedaan persepsi. Setiap kita masing-masing berbeda untuk saling melengkapi. Itulah mengapa sejak semula kita adalah homo socius. Kau tak berhak menentukan hidupku, begitupun sebaliknya dengan aku.

Air Matamu